Laman

  • Beranda
  • halo, I am an amateur blogger
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

About me

Novi Tani
View my complete profile
  • Beranda

Mengenai saya

Novi Tani
View my complete profile

Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Queensland

Selama bulan September sampai dengan Oktober 2019, saya dan 24 teman lain dari beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur memperoleh kesempatan ...

  • Beranda

Pariwisata, kebudayaan, dan perjalanan wisata

facebook google twitter tumblr instagram linkedin
Suasana Pantai, foto oleh Penulis

Nyanyi lagu pantai nyanyi lagu santai
Nyanyi lagu pantai mari santai


Lirik lagu dari sebuah grup musik bergenre reggae ini memang enak di dengar, apalagi dihayati liriknya ketika sedang berada di pantai. 
Setelah puas menyusuri tiga pantai seharian (Melasti, Dreamland, dan Padangpadang), kami masih punya satu utang pantai yang harus kami jelajahi. ya, pantai Nyangnyang menjadi pantai terakhir dalam list perjalanan kami hari itu.
Suasana pantai 2, foto oleh Penulis

Sebenarnya sudah sejak lama saya bernafsu untuk mengunjungi pantai ini, namun karena tidak ada kawan dan waktu untuk mengunjunginya akhirnya saya hanya bisa mengubur keinginan itu. Saya bersyukur karena sepupu saya datang dan tujuannya hanya untuk mengunjungi pantai-pantai tersembunyi di Bali. Yeahhh akhirnya saya ke pantai ini.
Jalur treking menuju pantai, foto oleh Penulis

Pantai ini belum terkelola dengan baik. Mungkin karena akses menuju ke sana yang tergolong sulit. Untuk menuju ke pantai ini, kami harus melakukan trekking menurun selama _+20 menit. Di beberapa titik sepanjang perjalanan menuju pantai kami menemukan beberapa warung semi permanen. Ada yang menjajakan oleh-oleh khas khas bali, ada juga yang menjajakan makanan dan minuman. Kami berhenti di salah satu warung yang menjajakan kelapa muda dan beberapa jenis minuman lainnya. Disini kami mengobrol panjang lebar dengan sang ibu pemilik warung. Mengenai isi obrolan ini akan saya uraikan di bagian terakhir tulisan ini.
Foto bersama Ibu Pemilik warung, foto oleh Lisye

Setelah kurang lebih 15 menit mengobrol, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju bibir pantai. Sepanjang perjalanan kami menyaksikan beberapa ekor monyet yang sedang bercengkrama di atas pohon gamal, sambil berlompatan dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Ada juga yang memadu kasih. Ahh indahnya, trus saya kapan? (kannnn, malah curhat;)).Tak perlu takut dengan monyet-monyet ini karena mereka tidak berniat mengganggu pengunjung. 
Di salah satu ruas jalan juga terpampang tulisan di atas papan kayu yang mengisyaratkan pengunjung untuk mengikuti batu putih, yang sengaja diletakkan penduduk setempat untuk memudahkan pengunjung menuju lokasi (karena ada banyak persimpangan menuju ke tempat ini). Setelah bersusah payah sepanjang perjalanan, kamipun tiba di lokasi. Suasananya masih benar-benar asri. Di sana kami menyapa dua orang ibu pemilik satu-satunya warung di bibir pantai yang sedang membersihkan bulu babi (sejenis binatang laut yang memiliki duri tajam di cangkangnya). Obrolan kami terputus oleh seorang wisatawan asing yang mau membeli minuman di warung sang ibu. 
Bulu babi, foto oleh Penulis
Okay, dari warung sang ibu kami bertolak menuju arah utara untuk menikmati lembutnya pasirnya serta dinginnya angin yang bertiup di sore itu. Tak lupa kami menanggalkan alas kaki kami biar bisa bersentuhan langsung dengan alam. Sejauh mata memandang terhampar birunya laut dan dan coklatnya pasir khas pantai Pulau Dewata. Sesekali tampak beberapa orang yang melakukan aktivitas paragliding, juga burung-burung pantai yang terbang dengan indahnya menikmati kebebasan. Sungguh perpaduan yang indah. 
Aktivitas Paragliding tampak jauh, foto oleh penulis.

Aktivitas Paragliding tampak dekat (setelah dizoom), foto oleh Penulis
Ketika Sang penguasa udara mengepakkan sayapnya, foto oleh Penulis

Pantai ini memiliki garis pantai yang panjang, akan tetapi hanya terlihat kurang dari sepuluh orang wisatawan yang berseliweran di sini dari awal datang hingga kami pulang. Benar-benar berasa pantai pribadi. 
Suasana pantai 3, foto oleh Penulis

Suasana pantai 3, foto oleh Lisye

Oh ya, di pantai ini terdapat rumah-rumah bola yang khusus disewakan oleh salah satu resort yang ada di area dekat parkiran untuk tamu istimewanya. Menurut ibu-ibu yang kami ajak ngobrol sebelumnya (tempat persinggahan pertama), rumah-rumah bola ini disewakan dengan harga sewa 1,5 juta per malam. "Bule-bulenya tidak suka dengan kebisingan" imbuhnya. Hanya ada 6 rumah bola di bibir pantai itu, 4 di sisi utara dan 2 di sisi selatan. Semua kebutuhan penyewa rumah bola dipenuhi oleh pegawai resort, bahkan makanannya pun diantar dengan berjalan kaki oleh pegawai resort. Kebetulan kami mengunjungi tempat itu pada hari selasa jadi hanya dua rumah bola yang mendapatkan tamu, sedangkan menurut si ibu, pada hari sabtu dan minggu banyak yang menyewa dan berkunjung ke tempat itu, bahkan ada pula yang mendirikan tenda sendiri dan bermalam di sana. Dalam hati saya berkata "suatu saat harus kesini lagi dan harus camping. Amin. Setelah mengambil beberapa foto dengan si ibu kami pun melanjutkan obrolan. Menurut si ibu, pedagang yang berjualan di sana semuanya merupakan warga lokal.
Rumah Bola, foto oleh Penulis

Di saat matahari mulai beranjak turun kami bertemu dengan beberapa nelayan yang baru pulang berlayar. Kami kemudian meminta salah satu pemuda untuk mengambil foto kami, karena kebetulan hanya pergi berdua ke sana. Dari empat kali jepretan, hanya dua foto yang jadi, tetapi satu fotonya malah dizoom. Yaaahhh adek sedih, tetapi tak mengapa karena rasa sedih tersebut dibayar dengan indahnya matahari terbenam sore itu. Sungguh matahari terbenam terindah yang pernah saya temui. Terimakasih untuk ciptaanmu yang ini indah ini. 
Hasil foto si Pemuda

Setelah matahari jingga sempurna kembali ke peraduannya, kami pun harus kembali ke parkiran untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Denpasar. Ingin rasanya melipat jarak biar segera sampai ke parkiran, tetapi apa daya itu hanya akan terjadi atas kuasa Tuhan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya pada pukul 18.30 tibalah kami di parkiran motor. Mau membilas badan dan mengganti baju akibat seharian berendam di tiga pantai, eh malah airnya lagi mati/tidak mengalir. Akhirnya kami memutuskan untuk basah-basahan sampai tiba di Denpasar. Sungguh malang nasibku. Seakan dewi fortuna berpaling dari kami, ketika mencari kunci motor, eh kunci motornya malah kabur. Kami terpaksa menghabiskan waktu sekitar 10 menitan hanya untuk mencari kunci motor. Syukur Ada ibu-ibu yang nyamperin kami karena melihat kami kebingungan. Ternyata kunci motor kami tertinggal ketika kami terburu-buru menuju pantai. Ya Tuhan, syukur ini di Bali, kalau di tempat lain wassalam deh.
Ketika Mentari perlahan meninggalkan langit 1, foto oleh Penulis

Ketika Mentari perlahan meninggalkan langit 2, foto oleh Lisye 
Ketika Mentari perlahan meninggalkan langit 3, foto oleh Lisye 



Ketika Mentari perlahan meninggalkan langit 4, foto oleh Lisye 

Ketika Mentari perlahan meninggalkan langit 5, foto oleh Lisye 

BACA JUGA :

GREENBOWL : PANTAI TERSEMBUNYI DI SISI SELATAN PULAU DEWATA

PESONA MATAHARI TERBENAM DAN CAFE TEPI TEBING DI PANTAI SULUBAN

ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR



JATILUWIH : MANIFESTASI BUDAYA MASYARAKAT BALI



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
PESONA MATAHARI TERBENAM DAN CAFE TEPI TEBING DI PANTAI SULUBAN
Saat matahari kembali ke peraduannya, in frame Rita Qi,
foto oleh Penulis


Matahari terbenam
Hari mulai malam

Itulah sepenggal lagu yang biasa saya dengarkan di masa kanak-kanak saya. Dulunya syair lagu ini hanya lancar dilafalkan saat saya bernyanyi, tanpa tahu betapa mengagumkannya proses terbenamnya matahari ini, apalagi makna dibaliknya. 
Saya mulai suka melihat matahari terbenam saat saya pindah ke pulau ini (baca : Bali), setelah pertama kali saya menikmati matahari terbenam di Pantai Balangan. Ternyata matahari terbenam memberikan efek yang luar biasa. Makna dibaliknya mengajarkan kita bahwa betapapun sulitnya hidup ini, ia akan selalu bermuara pada keindahan ketika saatnya telah tiba, seperti salah satu quote Kristen Butler di bawah ini.

Sunsets are proof that no matter what happens
Every day can end beautifully

Perjalanan ke Pantai Suluban dan Sambutan Sang Monyet
Tempat Parkir, foto oleh penulis

Si cantik, foto oleh penulis


Setelah puas menikmati pantai Greenbowl dengan keindahan dan kedamaiannya (lihat di postingan sebelumnya), kami pun bertolak ke Pantai Suluban untuk menikmati proses matahari terbenam. Perjalanan dari pantai Greenbowl ke Pantai Suluban memakan waktu sekitar 30 menit. 
Sesampainya  di parkiran motor, kami disambut dengan keributan para pemilik kios yang letaknya tidak jauh dari lahan parkir karena mereka dijahili oleh seekor monyet. Setelah motor kami terparkir rapi, sang monyet pun melarikan diri dengan memanjat ke salah satu pohon. Duhhh cantiknya sang monyet dengan latar langit biru serta pohon tak berdaun yang ia panjat. Saya tidak bisa melewatkan momen ini. Akhirnya saya meminjam kamera Lisye dan mengambil beberapa gambar dirinya. 
Biaya parkir motor di pantai ini dua ribu rupiah per motor dan masuk ke pantainya gratis. Untuk menuju ke pantai kita harus menapaki beberapa anak tangga, tetapi tidak seekstrim perjalananan menuju pantai Greenbowl. 
Papan selamat datang, foto oleh penulis


Cafe di Tepi Tebing

Tangga menuju cafe, foto oleh penulis

Pantai sisi utara dengan pemandangan kafe tepi tebingnya, foto oleh penulis



Setibanya di pantai kami disajikan pemdangan batu-batu raksasa yang membatasi dua sisi pantai (utara dan selatan) serta membentuk terowongan kecil di sisi selatan dan terowongan besar di sisi kiri. di tengah kedua sisi terowongan ada batu kapur besar, dan di sana tertera nama sebuah cafe serta penunjuk arah menuju cafe tersebut. Batu besar di tengah kedia terowongan ini sudah dipahat menjadi anak-anak tangga sebagai jalan menuju ke cafe tersebut. 
Kami lalu memutuskan untuk terlebih dahulu menjelajahi sisi utara pantai. Tidak banyak yang bisa dilakukan di sisi selain mandi dan duduk-duduk cantik karena bibir pantainya yang relatif pendek. Kami hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menitan di sana, lalu dilanjutkan menuju sisi selatan pantai. Untuk menuju ke sisi selatannya kami harus menunduk melewati terowongan kecil dan pendek, tetapi ini seru kawan.

Menikmati Matahari Terbenam bersama Teman Baru dari Negeri Tirai Bambu


Suasana pantai di sisi selatan, foto oleh penulis




bangkai-bangkai kapal, foto oleh Lisye

In frame Lisye, foto oleh penulis

Dibandingkan dengan Pantai Greenbowl, pantai ini tergolong ramai, tetapi tidak seramai pantai Kuta dan Pandawa. di sisi selatan ini, berbagai aktivitas di lakukan. Ada yang berjemur, mandi, membaca buku, mandi, jualan, dan surfing. Uniknya di sisi selatan ini, kami banyak menjumpai kapal-kapal yang telah rusak, sehingga bisa dijadikan tempat berteduh sembari menunggu matahari kembali ke peraduannya. 
Kami lalu memutuskan untuk membentangkan kain pantai yang kami bawa  lalu berbaring sambil menikmati suasana pantai. setelah puas berbaring, kami menuju air untuk berendam sambil menikmati pecahan ombak yang membentur tubuh. Sungguh nikmat. 
Di saat berendam ini kami berkenalan dengan salah satu pengunjung pantai ini yang berasal dari negeri China. Namanya Rita Qi. Kami pun mulai berbagi cerita. Si kawan mengatakan bahwa ia sangat menikmati alam Indonesia. saya lalu bertanya, bagaimana dengan negeri pesaing kita (Thailand). "kalau soal alam, Indonesia lebih Indah" balasnya. Ah bangganya saya sebagai orang Indonesia. sesi obrolan pun berlanjut, lalu kami saling mengambil beberapa gambar diri kami serta bertukar kontak, dan akhirnya menikmati matahari terbenam. Sungguh indah karya ciptaanmu Tuhan.
Foto bersama Rita Qi, kawan baru dari China

Tarif kamar mandi, foto oleh penulis

BACA JUGA :

MELAWAT KE KAMPUNG WAEREBO : MAGNET WISATA DI PULAU BUNGA

PESONA SEBUAH NAMA : PURBA YANG MELEGENDA

MENIKMATI MALAM DENGAN SEPORSI MAKANAN NASIONAL DISERTAI PENCUCI MATA "BULE CAKEP" DI PASAR TRADISIONAL SHINDU, SANUR

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

air asia air terjun always be my maybe angkutan umum asiatique australia bajra sandhi bali bangkok bts budaya budaya bali bus cafe tepi tebing catatan perjalanan catatan sore CBET CBT denpasar ekowisata Ende-Lio film flores gianyar Glur Hostel Gold Coast griffith university Gunung Gunung Api Gunung Api Purba gunung kidul hostel hua hin instagramable kebun raya kuliah lapangan kuliner Long Distance Relationship love story makanan matahari terbenam maybe moda transportasi museum museum 3D negeri seribu pagoda ngglanggeran NTT nusa dua olahraga pak chong pantai pasir putih payangan perjalanan wisata pork ribs thailand review rice terrace river boat river hoping sate babi singaraja subak sunset taman kota tegalalang teman baru thailand thailand trip travel journal travel literature ubud vokasi pariwisata waerebo wisata wisata alam Yogyakarta

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  July (5)
      • Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Q...
      • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
      • Produk pertanian lokal dan permasalahannya
      • PANGAN DAN KEARIFAN LOKAL
      • Tawar Naik : Sebuah Pelajaran Hidup
  • ►  2019 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
  • ►  2017 (21)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (7)

Popular Posts

  • ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR
    ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR Teman perjalanan saya (kiri ke kanan : K,Sarah, Saya, Ulfa, Noni), foto oleh Bli G...
  • Salah Satu Hal Terbaik dalam Hidup : Pendidikan Vokasi Pariwisata Griffith University, Australia
    Sesaat setelah pelepasan keberangkatan, foto bersama Bapak Wakil Gubernur NTT serta jajaran Terberkati. Itulah satu kata yang terngiang...
  • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
    Sumber :  https://amyunus.com/2018/07/14/yuk-nabung-saham/ Mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin kebanyakan tetap miskin? Jawaban...

Blogger templates

Blogroll

About

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Distributed By Protemplateslab & Created with by BeautyTemplates