Laman

  • Beranda
  • halo, I am an amateur blogger
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

About me

Novi Tani
View my complete profile
  • Beranda

Mengenai saya

Novi Tani
View my complete profile

Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Queensland

Selama bulan September sampai dengan Oktober 2019, saya dan 24 teman lain dari beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur memperoleh kesempatan ...

  • Beranda

Pariwisata, kebudayaan, dan perjalanan wisata

facebook google twitter tumblr instagram linkedin
Setelah dua kali reschedule penerbangan akhirnya hari itu, jumat, 1 desember 2017 kami dijinkan oleh yang di atas untuk meninggalkan Bali selama 6 hari. Sebelum berangkat kami masih harap-harap cemas, khawatir jika penerbangan dibatalkan lagi. Untuk mengantisipasi hal itu, kami belum mau membooking hostel karena kami uang hostel kami sudah hangus 300 ribu akibat penerbangan yang batal itu. Kami baru membooking hostel setelah roda pesawat mencumbui daratan negeri yang pernah dipimpin oleh raja yang sangat dicintai rakyatnya itu.
Setelah si raja udara lamat-lamat mengepakkan sayap meninggalkan kota seribu pura, diikuti goncangan-goncangan kecil ketika si burung besi menerobos awan menuju zona nyamannya, rasa takut mulai menghantui saya. Jujur, walaupun sudah berulang kali naik pesawat, saya selalu takut ketika pesawat mengalami turbulensi, apalagi baru terjadi erupsi dan bandara baru dibuka kembali setelah beberapa hari ditutup. Sungguh pikiran liar sudah menghantui otak saya, seakan-akan sayaa akan menamatkan riwayat hidup saya saat itu. Ahh sungguh imajinasi yang berlebihan.
mengudara, foto oleh Nonny

Selang beberapa waktu setelah guncangan yang membuat jantung seakan berhenti berdetak itu, saya menuju buritan untuk menunaikan panggilan wajib “setor bensin”. Saya kemudian bertanya ke pramugari dimana letak kamar mandi. Saya mengira pramugarinya orang Indonesia sehingga dengan tanpa beban saya menanyakannya dalam bahasa Indonesia. Si mbak kemudian menunjukkan muka bingung, tetapi saya masih belum “ngeh” juga. Setelah beberapa saat saya berpikir kenapa si mbak pramugari tiba-tiba bego, saya akhirnya saya “ngeh” juga. Saya kemudian menanyakan keberadaan tempat favorit saya ini dalam bahasa inggris, dan dengan senyum sapa manjah a la mimi peri, dia menunjukkan kepada saya tempat itu.
Setelah adegan itu, saya masih beberapa kali bolak-balik ke tempat keramat itu. Jam di handphone menunjukkan pukul 4 pm waktu Bali. Hal itu menunjukkan bahwa kami sudah mengudara selama 4 jam, kini tiba waktunya kami mendarat.
Yeahhhhh Thailand. Setelah si penguasa udara menghentikan manuvernya secara sempurna di atas pacuan, dilanjutkan dengan menapaki badan pesawat dan tangga, akhirnya kaki kami melumat tanah seribu pagoda. Ingin rasanya menitikkan air mata tetapi air mata saya sangat jual mahal, jadinya ya cuma senyam-senyum tidak jelas.
Dalam perjalanan menuju imigrasi untuk menyelesaikan segala urusan cap mencap, mata kami terpaku pada tulisan “Suvarnabhumi the pride of Thailand” dan didukung oleh gambar bandara baru untuk full service airlines. Apalah kami yang hanya bisa terbang dengan Low Cost Carrier Airlines ini. Pantasan setelah turun dari pesawat kami tak henti-hentinya mengomentari keadaan bandara ini, yang jauh dari kata modern. Maaf kalau mau dibilang bandara ini mirip gedung tua bekas pabrik. Kesannya tidak terawat. Ternyata bandara ini khusus diperuntukkan bagi budget traveller seperti kami. Yasudahlah yang penting bisa melihat dunia luar biar tidak dibilang katak dalam tempurung.
Menyusuri lorong bandara kami menemukan money exchange. Iseng kami menanyakan ratenya dan ternyata harga rupiah sangat rendah sodara-sodara. Satu baht (mata uang Thailand) dihargai 800an rupiah (lupa harga pastinya), padahal harga tukar  di Indonesia 420 rupiah per satu baht. Jauh sekali kan? Saya sarankan kalau mau ke Thailand atau ke negara manapun, terlebih dahulu belilah mata uang negara tujuan kamu, karena selain harganya yang sangat jatuh, terkadang negara tujuan kamu tidak menyediakan rupiah.
Menuntaskan keisengan, foto oleh Taya

Setelah mekhatamkan keisengan kami, kami segera menuju bagian imigrasi. Antrian mengular di sana sudah menunggu kami. Kami pun berbaris untuk menggenapi garis panjang itu. Sambil menunggu kami berniat mengambil beberapa gambar untuk update instagram juga sebagai kenang-kenangan, ternyata tidak diperbolehkan mengambil gambar di bagian imigrasi. Taya kaget ketika tiba-tiba salah seorang petugas bandara, seorang cewek cantik berwajah oriental menepuk pundaknya sambil berceracau dalam bahasa Thai. Sama seperti adegan saya ke kamar mandi di pesawat, diapun memasang tampang bingung. Selang beberapa detik baru dia “ngeh” ternyata maksudnya tidak boleh mengambil foto. Jadi kalau ke Thailand harus belajar bahasa tubuh juga, karena mereka sangat payah berbahasa inggris.
Kami lalu menertawakan kebodohan kami sambil melanjutkan baris-berbaris yang tak kunjung usai itu. Setelah menyiksa kaki selama kurang lebih 45 menit, kami baru menyadari bahwa ada antrian yang lebih pendek “ASEAN Lane” khusus untuk wisatawan dari negara-negara ASEAN. Kami segera memasang aba-aba untuk berpindah ke barisan yang panjangnya hanya dua meter itu, eh ternyata kami tidak diperbolehkan untuk mengekor di barisan itu. Katanya sudah penuh kuotanya. Entahlah apa motif si petugas itu. Kami terpkasa harus mengantre kembali dalam barisan panjang nan membosankan itu. Setelah 30 menit setelah adegan dilarang masuk barisan ASEAN, kami akhirnya menyelesaikan urusan di bagian imigrasi.
ASEAN Lane yang terlambat menampakkan wajahnya, foto oleh Taya

Yeahh kami bebas. Menapaki anak tangga menuju pintu keluar, kami menemukan konter yang menjual berbagai paket kartu data untuk wisatawan, kamipun membeli satu untuk bertiga demi menekan pengeluaran. Kami sangat beruntung hari itu karena begitu keluar dari pintu bandara, bus kota nomor A1 menuju Mochit sudah nangkring di depan bandara. Kami kemudian menaikinya dan segera melaju menuju stasiun BTS (Bangkok Mass Transit System) Mochit, lalu berganti moda transportasi skytrain, lalu berjalan kaki kurang lebih 300 meter menuju hostel, tempat kami dua menginap selama dua hari ke depan.

Baca juga :
Thailand Trip -- Surga bagi Pecinta Kuliner
Thailand Trip -- Mekong River Hoping Ala Ala
Thailand Trip -- Pengalaman Naik Angkutan Umum di Thailand
Thailand Trip -- Dari Mobil sampai Pesawat : Pengalaman Buruk Dalam Sehari
Thailand Trip -- Glur Hostel : Instagramable Spot in the Center of Bangkok City





Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Antusiasme tiga darah 24, foto oleh Ulfa
Malam Itu kami begitu bersemangat. Segala barang dan informasi yang sekiranya kami perlukan disana telah kami siapkan. Obrolan panjang tentang perjalanan besok di grup whatsApp begitu hangat. Kami akan berangkat berempat, tiga dari Denpasar (saya, Taya, dan Noni) dan satu dari Jakarta (Desi).
Malam itu juga Bli Angga berkunjung ke kosan untuk mengantar kamera yang akan kami sewa empat hari ke depan. Kami begitu antusias bercerita tentang apa saja yang akan kami lakukan di sana. Dengan waktu tidur yang hanya tiga jam saya begitu bersemangat bangun pagi-pagi keesokan harinya dan segera bersiap menuju bandara.
Jam 5 pagi kami bertolak dari kosan. Nonny memesan gokar dan drama Bapak gokar pun terjadi. Si Bapak sangat sulit menemukan alamat kami, padahal biasanya kami memesan taksi pakai aplikasi juga Bapak-bapak taksi onlinenya tidak sulit menemukan alamat kami. Si Nonny bolak-balik menelepon Bapaknya karena di aplikasi kami mendapati bapaknya hanya berkutat gang di depan jalan waturenggong sampai ke pertigaan sebelum belok kiri ke kosan. Kesal karena kelamaan, kami pun berniat untuk membatalkan pemesanan kami, namun hati kecil kami masih memiliki rasa iba karena bapaknya sudah dekat dengan tempat kami.
Tak lama berselang, setelah telepon terakhir Nonny, kami melihat Bapaknya di pertigaan. Kami lalu mengintruksikan Bapaknya untuk berbelok ke kiri. Kami pun lega. Kami mengira bahwa drama itu sudah berakhir, eh ternyata masih ada kelanjutannya saudara-saudara. Setelah kami naik ke mobil, si bapak tadi mengatakan kalau mobilnya tidak bisa mengantret jika menjemput2 kami di depan kosan. Sumpah bapaknya kebangetan lebaynya. Biasanya juga sopir lain bisa menjemput sampai depan kosan, bahkan sampai masuk ke dalam pagar. Jadi sebenarnya dia menyuruh kami untuk berjalan kaki ke pertigaan.
Bapaknya kemudian ngambek. Kami telah memintanya untuk mempercepat laju mobil karena kami sudah agak terlambat, tetapi Bapaknya malah pelan-pelan jalannya. Sumpah kami dongkol setengah mati sama Bapaknya. Alhasill kami pun hanya memberikan dua dari lima bintang untuk si Bapak, yang artinya buruk. Mampuslah.
Kesialan kami ternyata tidak berhenti di sittu. Sesampainya di Bandara kami berbaris di antrian check in yang telah mengular, saking banyaknya penerbangan hari itu. Sambil mengantri kami pun mengontak teman kami di jakarta untuk segera ke bandara, dan ternyata dua sudah di bandara juga, padahal penerbangannya sejam lebih lambat dari penerbangan kami. Antusiasme anak yang akan ke luar negeri sangat berlebihan sodara-sodara. Ya itulah kami 4 anak gadis usia 24 tahun. Darah muda dengan rasa penasaran yang tinggi telah menghantui kami. 
Suasana Bandara pagi itu.
Tidak terbersit sedikitpun dalam benak kamu bahwa kami ditakdirkan untuk menjelajahi setiap sudut negeri seribu pagoda dalam dua kelompok yang berbeda. Hal ini sangat tidak adil buat Desi karena di kelompoknya hanya dialah satu-satunya anggotanya. Syukurnya si Desi orangnya berani dan super aktif jadinya baik-baik saja dia disana sendirian sampai pulang kembali ke Jakarta.
Lutut kami begitu lemas ketika di kabarkan oleh si Mas hitam manis tinggi kurus, petugas check in  bahwa penerbangan kami ditunda oleh karena abu gunung agung yang baru saja menyemburkan lahar panas dengan ganasnya. Okay, kami tahu bahwa pemilik daratan tertinggi Pulau Bali baru saja mengamuk, tetapi kami tidak menyangka bahwa efeknya penerbangan kami akan ditunda. 
Syukurnya si mas menginformasikan bahwa kami bisa menjadwalkan ulang penerbangan kami. Dia lalu menanyakan kapan kami mau mengganti jadwal terbang kami. Dengan lantang kami menjawab kami mau terbang besok. Eh ternyata besoknya penerbangan dibatalkan lagi, karena kondisi terkini tidak memungkinkan untuk melakukan penerbangan. Kami lalu harus ke kantor Air Asia yang jarakya lumayan jauh dari kosan untuk menjadwalkan ulang penerbangan kami. Akhirnya setelah tertunda 4 hari, kamipun bisa terbang ke negeri impian kami. Terimakasih Tuhan.

Adakah di antara teman-teman yang punya pengalaman serupa dengan kami? Kalau ada ceritakan di kolom komentar ya.

Danke🙏🙏🙏

Baca juga :

Thailand Trip -- Surga bagi Pecinta Kuliner

Thailand Trip -- Mekong River Hoping Ala Ala

Thailand Trip : Ketika kaki mencumbui Daratan Negeri Seribu Pagoda 

Thailand Trip -- Glur Hostel : Instagramable Spot in the Center of Bangkok City
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

air asia air terjun always be my maybe angkutan umum asiatique australia bajra sandhi bali bangkok bts budaya budaya bali bus cafe tepi tebing catatan perjalanan catatan sore CBET CBT denpasar ekowisata Ende-Lio film flores gianyar Glur Hostel Gold Coast griffith university Gunung Gunung Api Gunung Api Purba gunung kidul hostel hua hin instagramable kebun raya kuliah lapangan kuliner Long Distance Relationship love story makanan matahari terbenam maybe moda transportasi museum museum 3D negeri seribu pagoda ngglanggeran NTT nusa dua olahraga pak chong pantai pasir putih payangan perjalanan wisata pork ribs thailand review rice terrace river boat river hoping sate babi singaraja subak sunset taman kota tegalalang teman baru thailand thailand trip travel journal travel literature ubud vokasi pariwisata waerebo wisata wisata alam Yogyakarta

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  July (5)
      • Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Q...
      • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
      • Produk pertanian lokal dan permasalahannya
      • PANGAN DAN KEARIFAN LOKAL
      • Tawar Naik : Sebuah Pelajaran Hidup
  • ►  2019 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
  • ►  2017 (21)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (7)

Popular Posts

  • ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR
    ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR Teman perjalanan saya (kiri ke kanan : K,Sarah, Saya, Ulfa, Noni), foto oleh Bli G...
  • Salah Satu Hal Terbaik dalam Hidup : Pendidikan Vokasi Pariwisata Griffith University, Australia
    Sesaat setelah pelepasan keberangkatan, foto bersama Bapak Wakil Gubernur NTT serta jajaran Terberkati. Itulah satu kata yang terngiang...
  • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
    Sumber :  https://amyunus.com/2018/07/14/yuk-nabung-saham/ Mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin kebanyakan tetap miskin? Jawaban...

Blogger templates

Blogroll

About

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Distributed By Protemplateslab & Created with by BeautyTemplates