Laman

  • Beranda
  • halo, I am an amateur blogger
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

About me

Novi Tani
View my complete profile
  • Beranda

Mengenai saya

Novi Tani
View my complete profile

Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Queensland

Selama bulan September sampai dengan Oktober 2019, saya dan 24 teman lain dari beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur memperoleh kesempatan ...

  • Beranda

Pariwisata, kebudayaan, dan perjalanan wisata

facebook google twitter tumblr instagram linkedin



 View Embung Ngglanggeran dari Puncak Gunung Purba,
foto oleh Ihyana Hulfa/Gege


Pada hari ke 10 saya menikmati liburan semester di Jogja, saya dan kawan-kawan (salah satunya teman Magister Kajian Pariwisata 2016, Ulfa) menuju ke kawasan ekowisata Gunung Api Purba Ngglanggeran yang terletak di Desa Ngglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Perjalanan dari pusat kota Yogyakarta menuju kawasan ekowisata tersebut memakan waktu kurang lebih satu jam. Sesampainya di sana kami pun segera memarkir kendaraan dan menuju ke loket untuk melakukan pembayaran. Setiap pengunjung dikenai biaya  tiket masuk seharga Rp 15.000,00 dan biaya parkir motor Rp 2.000,00 per motor.
Batu raksasa pengapit jalan,
In Frame : Ulfa, Gege, Ari, foto oleh Penulis
Batu Raksasa penghuni Gunung Api Purba,
foto oleh Ari/Ulfa/Gege
Setelah melakukan pembayaran, kami pun tidak sabar lagi untuk mencapai puncak. Pendakian kami pun dimulai dan dipandu oleh salah seorang teman yang sudah pernah kesana. Di sepanjang trek pendakian kami melewati lorong-lorong sempit yang diapiti oleh batu-batu raksasa. Di beberapa titik terdapat gardu pandang yang disediakan untuk menikmati pemandangan sekitar dari ketinggian. Ada juga pemandangan dua gunung raksasa, yakni gunung Merapi dan Merbabu. Sungguh indah. Di gardu pandang tersebut kami pun beristirahat sejenak sambil mengabadikan pemandangan dan momen-momen indah tersebut dalam bingkai kamera.
sayang lingkungan dong :)
foto oleh Ulfa

            Pendakian pun dilanjutkan. Di sepanjang perjalanan, kami disuguhkan tulisan-tulisan berupa himbauan untuk menjaga lingkungan dengan rangkaian kalimat yang kocak khas anak muda yang lumayan mengocok perut. Selain gardu pandang, ada juga mata air sakral yang bernama mata air Comberan di salah satu titik. Di sini perempuan yang sedang datang bulan dilarang masuk. Setelah menempuh perjalan kurang lebih 45 menit kami pun sampai di puncak pertama. Di sana kami beristirahat sejenak, kemudian perjalanan dilanjutkan ke puncak kedua. Pemandangan yang sempurna. Dari puncak tersebut Embung Ngglanggeran terlihat sangat jelas dan menjadi background yang sangat bagus untuk berpose ria.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit di puncak, kami pun turun kembali. Di pos terakhir kami menemukan sebuah warung kejujuran. Kami kemudian berhenti di sana untuk membeli beberapa botol air mineral. Menurut salah satu anggota kelompok sadar wisata (pokdarwis) kawasan ekowisata, warung kejujuran tersebut milik salah satu warga desa. Tambahnya pula, beberapa waktu yang lalu ada seorang pendaki yang tertarik dengan konsep warung kejujuran itu, kemudian ia menyumbangkan satu unit kulkas untuk pemilik warung kejujuran tersebut. Selain itu, ada juga peternakan kambing sebelum tiba di parkiran. Yang unik dari kandang tersebut adalah bentuknya yang cantik dan indah serta yang menempati kandang tersebut hanyalah kambing yang berwarna putih.
Pemandangan dari gardu pandang 2
view Gunung Kembar (Merapi-Merbabu) berjejer rapi di hadapan



          
Kantin Kejujuran ala masyarakat lokal
  Setibanya di pos, kami beristirahat sejenak sambil mengobrol dengan Bapak Triana, yang sudah disebutkan di atas. Beliau menjelaskan bahwa pihak pengelola kawasan ekowisata Gunung Api Purba mengusung konsep Community Based Eco-Tourism (CBET) dalam pengelolaan kawasan ekowisata tersebut. Dari retribusi sebesar Rp 15.000,00 yang dikenakan kepada pengunjung, Rp 2.000,00 diperuntukan Pemerintah Daerah Kabupaten Gunung Kidul, sedangkan sisanya digunakan untuk perawatan lingkungan ekowisata, khas desa, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain. Selain itu, disana terdapat penginapan milik warga di bawah kaki gunung Purba, sehingga warga setempat bisa memperoleh pendapatan tambahan. Menurut Triana, pada tahun 2002/2003 harga tiket masuk hanya sebesar Rp 500,00 per orang, kemudian pada tahun 2007/2008 harga tiket dinaikkan menjadi Rp 7.000,00 per orang. Triana menyebutkan bahwa dalam sebulan, jumlah pengunjung rata-rata Rp 12.000,00 orang. Dengan membludaknya jumlah pengunjung, daya dukung lingkungan pun menurun. Kemudian dengan berbagai pertimbangan akhirnya pada bulan Juli tahun 2016 harga tiket dinaikkan menjadi Rp 15.000,00 per orang untuk siang hari dan Rp 20.000,00 per orang untuk malam hari agar kelestarian alam di kawasan tetap terjaga.
dari kiri ke kanan : Penulis, Pak Triana (Nara Sumber), dan Ari


            Kabar baiknya, pokdarwis kawasan ekowisata baru saja menerima penghargaan CBET di Singapura. Satu hal unik yang membuat saya terperangah adalah mereka, warga Desa Ngglanggeran membubuhi nama belakang mereka dengan tambahan Purba demi mempopulerkan kawasan ekowisata tersebut, sampai orang mengira kalau marga Purba Batak sudah berpindah ke Gunung Kidul. Wow luar biasa ya usaha mereka. Semoga kelestarian kawasan ekowisata tersebut tetap berlanjut.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Pintu Masuk Kebun Raya Gianyar (masih dalam pengerjaan), foto oleh Nonny Sunaryo
Ketika membaca pesan WA dari Bli Alit, ketua angkatan kami di grup angkatan bahwa hari sabtu tanggal 9 september kami diundang untuk bergabung dalam pengabdian masyarakat program studi kajian pariwisata, saya sangat bahagia. Kalian pasti bertanya-tanya “kok bahagia sih?” yah saya bahagia karena pengabdian masyarakat artinya jalan-jalan lagi, dan yang terpenting adalah gratis (huhh dasar anak kos).
Penasaran sama lokasinya? Kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi Kebun Raya Gianyar atau nama internesienelnya (sok inggris) Gianyar Botanical Garden.
Hijau membentang sepanjang perjalanan, foto oleh penulis
Semalam sebenarnya udah persiapan buat bangun pagi, tapi apa daya takdir berkata lagi. Syukur digedorin Topan yang pagi tadi datang menjemput duo hijabers (makasih lho pan wkwkwk). Walau udah digedorin Topan, tetapi karena belum mandi dan melakukan ritual-ritual kewanitaan lainnya, akhirnya saya ketinggalan bis gratis. Saya disaranin sama katrin dan nonny buat nyusul naik motor. Sebenarnya awalnya malas banget buat nyusul sendirian, tapi karena udah lama gak nyusurin Bali dan sekitarnya akibat libur berkepanjangan akhirnya saya nyusul juga naik motor sendirian.
Cuaca hari ini sangat bersahabat men. Entah karena cuacanya kasihan saya atau gimana, pokoknya saya merasa perjalanan single saya hari ini menyenangkan. Udara dingin yang alam sajikan, pemandangan hijau di sepanjang perjalanan yang alam sediakan menjadikan perjalanan hari ini memberikan pelajaran berharga buat saya. Yupss, pelajaran untuk lebih banyak bersyukur, untuk menyadari bahwa Tuhan sudah punya rencana untuk setiap ciptaannya (yaelahhh sok rohani kali pun diriku).
Tanaman sayur di Kebun Raya Gianyar, foto oleh penulis
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya saya tiba di TKP, eh ternyata gak ada orangnya. Saya pun kembali ke kampung dekat TKP buat bertanya, tetapi di sana saya malah bertemu sama ketiga teman saya yang juga nyusul di sebuah warung. Ternyata sodara-sodara, rombongan bis masih di Kantor Desa Kerta dikarenakan ada diskusi di sana. Karena bosan nunggu, akhirnya kami memesan pop mie sama ibu pemilik warung. Setelah mienya tersaji di depan kami, muncullah rombongan bis. Sial kan? Hmmm. Yasudah, akhirnya kami terburu-buru menghabiskan pop mie tadi (sayang banget gak dihabisin). Kami pun kemudian menyusul kawan-kawan ke TKP.
keadaan kebun raya di Balai pertemuan dan sekitarnya, foto oleh penulis.

Dan tarangggg di sana kami disiapkan oleh panitia nasi kotak. Rejeki anak solehah benar-benar ya? Wkwkwk. Nyampe dan makan. Asyik banget kan? Makanannya enak pula. Setelah makan siang kami pun berkumpul di balai pertemuan untuk berdiskusi bersama para dosen, pejabat desa, serta pengurus kebun raya. Karena saya mengantuk berat, materi yang diberikan pun hanya sedikit yang nyantol. Materi yang diberikan seputar ekowisata dan dalam sesi diskusi ada penyataan dan pertanyaan dari mahasiswa yang intinya mengkhawatirkan ekowisata di kebun raya tersebut akan menjadi mass tourism/wisata masal.
Pohon Keladi Raksasa, foto oleh Nonny Sunaryo

Monumen pohon cinta, foto oleh penulis.
Setelah melewati sesi diskusi, kami pun diajak mengelilingi kebun raya untuk sekedar memanjakan mata sekaligus belajar. Apa yang kami temukan dalam petualangan kami kali ini sodara-sodara? Kami menemukan pohon keladi raksasa, yang tingginya bisa mencapai dua kali lipat tinggi manusia. Wah luar biasa kan? Saya belum pernah menemukan keladi setinggi ini sebelumnya. Paling mentok sebahulah tingginya. Selain itu kami juga menemukan pohon cinta. Konon katanya pohon ini berbentuk cinta, tetapi tidak bisa dilihat secara kasat mata, karena tinggi dan bentuk hatinya menjorok ke dalam hutan lebat. Tetapi jangan khawatir karena ada monumen temporernya yang bisa dipakai pengunjung buat berselfie ria. Satu lagi yang tidak kalah unik dari kebun raya tersebut adalah keberadaan pohon hamil? Kenapa disebut pohon hamil? Saya pun tidak tahu. Mungkin karena bagian tengah pohon yang sedikit mengembung sehingga menyerupai perempuan hamil.

Pohon hamil, foto oleh penulis
sebenarnya masih banyak lagi tanaman bali yang bisa kami lihat, mengingat kebun raya tersebut memiliki lahas seluas kurang lebih sepuluh hektar, namun dikarenakan oleh waktu yang terbatas, akhirnya petualangan kami berakhir setelah mengunjungi pohon hamil. Terimakasih prodi s2 kajian pariwisata yang sudah memfasilitasi perjalanan kami pada hari ini. Sampai bertemu pada pengabdian-pengabdian berikutnya.








BACA JUGA :

ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR

PESONA MATAHARI TERBENAM DAN CAFE TEPI TEBING DI PANTAI SULUBAN

MELAWAT KE KAMPUNG WAEREBO : MAGNET WISATA DI PULAU BUNGA
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

air asia air terjun always be my maybe angkutan umum asiatique australia bajra sandhi bali bangkok bts budaya budaya bali bus cafe tepi tebing catatan perjalanan catatan sore CBET CBT denpasar ekowisata Ende-Lio film flores gianyar Glur Hostel Gold Coast griffith university Gunung Gunung Api Gunung Api Purba gunung kidul hostel hua hin instagramable kebun raya kuliah lapangan kuliner Long Distance Relationship love story makanan matahari terbenam maybe moda transportasi museum museum 3D negeri seribu pagoda ngglanggeran NTT nusa dua olahraga pak chong pantai pasir putih payangan perjalanan wisata pork ribs thailand review rice terrace river boat river hoping sate babi singaraja subak sunset taman kota tegalalang teman baru thailand thailand trip travel journal travel literature ubud vokasi pariwisata waerebo wisata wisata alam Yogyakarta

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  July (5)
      • Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Q...
      • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
      • Produk pertanian lokal dan permasalahannya
      • PANGAN DAN KEARIFAN LOKAL
      • Tawar Naik : Sebuah Pelajaran Hidup
  • ►  2019 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
  • ►  2017 (21)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (7)

Popular Posts

  • ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR
    ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR Teman perjalanan saya (kiri ke kanan : K,Sarah, Saya, Ulfa, Noni), foto oleh Bli G...
  • Salah Satu Hal Terbaik dalam Hidup : Pendidikan Vokasi Pariwisata Griffith University, Australia
    Sesaat setelah pelepasan keberangkatan, foto bersama Bapak Wakil Gubernur NTT serta jajaran Terberkati. Itulah satu kata yang terngiang...
  • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
    Sumber :  https://amyunus.com/2018/07/14/yuk-nabung-saham/ Mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin kebanyakan tetap miskin? Jawaban...

Blogger templates

Blogroll

About

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Distributed By Protemplateslab & Created with by BeautyTemplates