Laman

  • Beranda
  • halo, I am an amateur blogger
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

Search This Blog

Powered by Blogger.

Report Abuse

About me

Novi Tani
View my complete profile
  • Beranda

Mengenai saya

Novi Tani
View my complete profile

Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Queensland

Selama bulan September sampai dengan Oktober 2019, saya dan 24 teman lain dari beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur memperoleh kesempatan ...

  • Beranda

Pariwisata, kebudayaan, dan perjalanan wisata

facebook google twitter tumblr instagram linkedin


Suasana Subak Tegalalang, foto oleh Penulis.


Without agriculture tourism is nothing

Itulah sepenggal kalimat yang keluar dari mulut salah satu tokoh penting pariwisata Bali (saya lupa namanya) dalam sebuah seminar yang diprakarsai oleh Kementrian Pariwisata di Sanur Paradise Hotel pada Bulan Oktober tahun 2016 lalu. Dikatakan pula daya tarik utama pariwisata Bali awalnya adalah kultur pertanian itu sendiri.
Suasana Subak dari Pelataran Kafe, foto oleh Penulis

Kultur pertanian yang termanifestasi dan Subak menjadi roh dalam pertanian masyarakat Bali. Oh ya, ada yang belum tahu apa itu subak? Baik saya jelaskan terlebih dahulu tentang subak itu sendiri. Saya mendengar berbagai versi tentang pengetian subak itu sendiri. Ada yang mengatakan subak adalah sistem pengairan tradisional masyarakat Bali yang adil yang diterapkan secara turun temurun. Sumber lainnya mengatakan bahwa subak adalah organisasi yang menangani sistem irigasi tersebut. Sedangkan sumber lainnya lagi mengatakan bahwa subak adalah sawah terasering itu sendiri.
Atribut berbayar (seikhlasnya), foto oleh Penulis.

Ada beberapa subak yang ada di Bali, dua di antaranya adalah Subak Jatiluwih yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO dan Subak Tegalalang atau yang dikenal dengan Tegalalang rice terrace yang menjadi obyek pada tulisan saya kali ini.
Lapak baru, foto oleh Penulis.

Tegalalang rice terrace ini terletak di Desa Tegalalang, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, tetapi kerap orang mengatakan kalau tempat ini letaknya di Ubud. Mungkin karena letaknya yang relatif dekat dari Ubud. Untuk mencapai tempat ini dibutuhkan waktu _+1 jam 15 menit dari Kota Denpasar. Tidak usah khawatir dengan rute perjalanannya karena dengan sekali klik di google maps, semuanya beres J
Foto-foto, foto oleh Penulis.


Setibanya di lokasi kami memarkir kendaraan (baca : motor). Pengunjung dikenai biaya parkir sebesar lima ribu rupiah per motor. Untuk biaya masuk ke obyek wisata sebenarnya gratis, tetapi di sana terdapat tiga posko donasi. Menurut informasi yang saya peroleh, posko-posko donasi tersebut milik para petani pemilik lahan, padahal menurut salah satu warga para petani tersebut sudah dikasih kompensasi dari pihak pengelola. Di posko pertama di sana tidak ada paksaan untuk membayar atau tidak, ya namanya juga donasi. Di posko kedua kesannya agak di paksa untuk memberi donasi karena pengunjung akan diberhentikan dan di suruh menyisihkan uangnya ke kotak donasi. Dan di posko ketiga lebih jahat lagi, karena setiap pengunjung sudah dipatok harga sepuluh ribu per orang. Lah ini namanya donasi atau pemalakan? Heran saya. Eh daripada emosi membahas keburukan tata kelolanya mending kita membahas keindahaan lanskapnya ya.
Puncak Subak, foto oleh Penulis.

Ketika memasuki pelataran kafe-kafe yang terletak di jalan masuk menuju Subak, pengunjung akan dibuat terkesima dengan keindahan arsitektur ciptaan leluhur Bali jaman dahulu. Sawah bertingkat dengan nilai seni yang tinggi menjadi hal pertama yang dilihat. Pengunjung bisa memilih untuk menikmati hijaunya persawahan bertingkat tersebut hanya dengan bersantai di kafe-kafe yang ada di sekitar daya tarik wisata tersebut atau bisa juga treking menyusuri pematang sawah. Sudah empat kali saya berkunjung ke tempat ini dan seperti biasa saya selalu tertarik untuk treking menyusuri area persawahan ini.
Suasana subak, foto oleh Penulis.

Di kunjungan terkahir saya kemarin saya kaget karena saya melihat sudah ada lapak yang berjualan es krim di tengah areal persawahan, karena sebelumnya tidak ada. Dalam perkuliahan saya tentang perencanaan pariwisata, dosen saya pernah menjelaskan bahwa telah terjadi pergeseran dalam bidang pariwisata, yang semula based on demand (berdasarkan permintaan) menjadi based on need (berdasarkan kebutuhan) dan sekarang menjadi based on enterprise (dikendalikan oleh pengusaha), dimana pengusaha bisa menciptakan hal apa saja di kawasan ataupun daya tarik pariwisata demi mendapatkan uang. Hal serupa saya yakini terjadi di Tegalang juga, namun di sini skalanya masih sangat kecil, tetapi tidak menutup kemungkinan ke depannya bisa meluas. Saya tidak tahu apa motif pengelola membiarkan lapak ini berjualan disana, mungkin karena pajaknya besar sehingga bisa menigkatkan pendapatan. Nah kan salah fokus lagi.
Suasana Subak, foto oleh Penulis.

Di tempat ini pengunjungnya rata-rata wisatawan mancanegara. Sangat jarang ditemukan wisatawan domestik, sampai-sampai para penarik donasi paksaan pun mengingatkan kami untuk memberikan donasi menggunakan bahasa inggris (berarti wajah kami kebule-bulean dong ;) #eakkk). Macam-macam aktivitas biasa dilakukan wisatawan di sana. Ada yg berfoto, trekking, menikmati suasana persawahan, menikmati makanan dan minuman, serta aktivitas-aktivitas lainnya yang tidak tertangkap mata saya.
Wanderers, foto oleh cowok cakep dari Chile yang menawarkan diri secara spontan. Gracias Senor.


Sekian dulu yang coretan tidak beraturan dari saya hari ini. Terimakasih sudah berkunjung. J



BACA JUGA :

Pantai Nyangnyang : KetikaMentari Kembali ke Peraduannya

ONE DAY TOUR : ALING-ALING,KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR

EKSOTISME LOKASI SYUTING FILMEAT PRAY LOVE, PANTAI PADANG-PADANG

TERHEMPAS OMBAK TERBAKAR MATAHARI DI PANTAI DREAMLAND

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Pintu Masuk Kebun Raya Gianyar (masih dalam pengerjaan), foto oleh Nonny Sunaryo
Ketika membaca pesan WA dari Bli Alit, ketua angkatan kami di grup angkatan bahwa hari sabtu tanggal 9 september kami diundang untuk bergabung dalam pengabdian masyarakat program studi kajian pariwisata, saya sangat bahagia. Kalian pasti bertanya-tanya “kok bahagia sih?” yah saya bahagia karena pengabdian masyarakat artinya jalan-jalan lagi, dan yang terpenting adalah gratis (huhh dasar anak kos).
Penasaran sama lokasinya? Kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi Kebun Raya Gianyar atau nama internesienelnya (sok inggris) Gianyar Botanical Garden.
Hijau membentang sepanjang perjalanan, foto oleh penulis
Semalam sebenarnya udah persiapan buat bangun pagi, tapi apa daya takdir berkata lagi. Syukur digedorin Topan yang pagi tadi datang menjemput duo hijabers (makasih lho pan wkwkwk). Walau udah digedorin Topan, tetapi karena belum mandi dan melakukan ritual-ritual kewanitaan lainnya, akhirnya saya ketinggalan bis gratis. Saya disaranin sama katrin dan nonny buat nyusul naik motor. Sebenarnya awalnya malas banget buat nyusul sendirian, tapi karena udah lama gak nyusurin Bali dan sekitarnya akibat libur berkepanjangan akhirnya saya nyusul juga naik motor sendirian.
Cuaca hari ini sangat bersahabat men. Entah karena cuacanya kasihan saya atau gimana, pokoknya saya merasa perjalanan single saya hari ini menyenangkan. Udara dingin yang alam sajikan, pemandangan hijau di sepanjang perjalanan yang alam sediakan menjadikan perjalanan hari ini memberikan pelajaran berharga buat saya. Yupss, pelajaran untuk lebih banyak bersyukur, untuk menyadari bahwa Tuhan sudah punya rencana untuk setiap ciptaannya (yaelahhh sok rohani kali pun diriku).
Tanaman sayur di Kebun Raya Gianyar, foto oleh penulis
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam, akhirnya saya tiba di TKP, eh ternyata gak ada orangnya. Saya pun kembali ke kampung dekat TKP buat bertanya, tetapi di sana saya malah bertemu sama ketiga teman saya yang juga nyusul di sebuah warung. Ternyata sodara-sodara, rombongan bis masih di Kantor Desa Kerta dikarenakan ada diskusi di sana. Karena bosan nunggu, akhirnya kami memesan pop mie sama ibu pemilik warung. Setelah mienya tersaji di depan kami, muncullah rombongan bis. Sial kan? Hmmm. Yasudah, akhirnya kami terburu-buru menghabiskan pop mie tadi (sayang banget gak dihabisin). Kami pun kemudian menyusul kawan-kawan ke TKP.
keadaan kebun raya di Balai pertemuan dan sekitarnya, foto oleh penulis.

Dan tarangggg di sana kami disiapkan oleh panitia nasi kotak. Rejeki anak solehah benar-benar ya? Wkwkwk. Nyampe dan makan. Asyik banget kan? Makanannya enak pula. Setelah makan siang kami pun berkumpul di balai pertemuan untuk berdiskusi bersama para dosen, pejabat desa, serta pengurus kebun raya. Karena saya mengantuk berat, materi yang diberikan pun hanya sedikit yang nyantol. Materi yang diberikan seputar ekowisata dan dalam sesi diskusi ada penyataan dan pertanyaan dari mahasiswa yang intinya mengkhawatirkan ekowisata di kebun raya tersebut akan menjadi mass tourism/wisata masal.
Pohon Keladi Raksasa, foto oleh Nonny Sunaryo

Monumen pohon cinta, foto oleh penulis.
Setelah melewati sesi diskusi, kami pun diajak mengelilingi kebun raya untuk sekedar memanjakan mata sekaligus belajar. Apa yang kami temukan dalam petualangan kami kali ini sodara-sodara? Kami menemukan pohon keladi raksasa, yang tingginya bisa mencapai dua kali lipat tinggi manusia. Wah luar biasa kan? Saya belum pernah menemukan keladi setinggi ini sebelumnya. Paling mentok sebahulah tingginya. Selain itu kami juga menemukan pohon cinta. Konon katanya pohon ini berbentuk cinta, tetapi tidak bisa dilihat secara kasat mata, karena tinggi dan bentuk hatinya menjorok ke dalam hutan lebat. Tetapi jangan khawatir karena ada monumen temporernya yang bisa dipakai pengunjung buat berselfie ria. Satu lagi yang tidak kalah unik dari kebun raya tersebut adalah keberadaan pohon hamil? Kenapa disebut pohon hamil? Saya pun tidak tahu. Mungkin karena bagian tengah pohon yang sedikit mengembung sehingga menyerupai perempuan hamil.

Pohon hamil, foto oleh penulis
sebenarnya masih banyak lagi tanaman bali yang bisa kami lihat, mengingat kebun raya tersebut memiliki lahas seluas kurang lebih sepuluh hektar, namun dikarenakan oleh waktu yang terbatas, akhirnya petualangan kami berakhir setelah mengunjungi pohon hamil. Terimakasih prodi s2 kajian pariwisata yang sudah memfasilitasi perjalanan kami pada hari ini. Sampai bertemu pada pengabdian-pengabdian berikutnya.








BACA JUGA :

ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR

PESONA MATAHARI TERBENAM DAN CAFE TEPI TEBING DI PANTAI SULUBAN

MELAWAT KE KAMPUNG WAEREBO : MAGNET WISATA DI PULAU BUNGA
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me


Aenean sollicitudin, lorem quis bibendum auctor, nisi elit consequat ipsum, nec sagittis sem nibh id elit. Duis sed odio sit amet nibh vulputate.

Follow Us

Labels

air asia air terjun always be my maybe angkutan umum asiatique australia bajra sandhi bali bangkok bts budaya budaya bali bus cafe tepi tebing catatan perjalanan catatan sore CBET CBT denpasar ekowisata Ende-Lio film flores gianyar Glur Hostel Gold Coast griffith university Gunung Gunung Api Gunung Api Purba gunung kidul hostel hua hin instagramable kebun raya kuliah lapangan kuliner Long Distance Relationship love story makanan matahari terbenam maybe moda transportasi museum museum 3D negeri seribu pagoda ngglanggeran NTT nusa dua olahraga pak chong pantai pasir putih payangan perjalanan wisata pork ribs thailand review rice terrace river boat river hoping sate babi singaraja subak sunset taman kota tegalalang teman baru thailand thailand trip travel journal travel literature ubud vokasi pariwisata waerebo wisata wisata alam Yogyakarta

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (5)
    • ▼  July (5)
      • Perjuangan Menuju Supermarket di Sunshine Coast, Q...
      • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
      • Produk pertanian lokal dan permasalahannya
      • PANGAN DAN KEARIFAN LOKAL
      • Tawar Naik : Sebuah Pelajaran Hidup
  • ►  2019 (4)
    • ►  September (1)
    • ►  June (3)
  • ►  2017 (21)
    • ►  December (6)
    • ►  November (3)
    • ►  October (5)
    • ►  September (7)

Popular Posts

  • ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR
    ONE DAY TOUR : ALING-ALING, KROYA, PUCUK, DAN KEMBAR Teman perjalanan saya (kiri ke kanan : K,Sarah, Saya, Ulfa, Noni), foto oleh Bli G...
  • Salah Satu Hal Terbaik dalam Hidup : Pendidikan Vokasi Pariwisata Griffith University, Australia
    Sesaat setelah pelepasan keberangkatan, foto bersama Bapak Wakil Gubernur NTT serta jajaran Terberkati. Itulah satu kata yang terngiang...
  • BELAJAR INVESTASI DARI MEDIA SOSIAL
    Sumber :  https://amyunus.com/2018/07/14/yuk-nabung-saham/ Mengapa orang kaya semakin kaya dan orang miskin kebanyakan tetap miskin? Jawaban...

Blogger templates

Blogroll

About

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Distributed By Protemplateslab & Created with by BeautyTemplates