Thailand Trip -- Ketika kaki mencumbui Daratan Negeri Seribu Pagoda

by - December 07, 2017

Setelah dua kali reschedule penerbangan akhirnya hari itu, jumat, 1 desember 2017 kami dijinkan oleh yang di atas untuk meninggalkan Bali selama 6 hari. Sebelum berangkat kami masih harap-harap cemas, khawatir jika penerbangan dibatalkan lagi. Untuk mengantisipasi hal itu, kami belum mau membooking hostel karena kami uang hostel kami sudah hangus 300 ribu akibat penerbangan yang batal itu. Kami baru membooking hostel setelah roda pesawat mencumbui daratan negeri yang pernah dipimpin oleh raja yang sangat dicintai rakyatnya itu.
Setelah si raja udara lamat-lamat mengepakkan sayap meninggalkan kota seribu pura, diikuti goncangan-goncangan kecil ketika si burung besi menerobos awan menuju zona nyamannya, rasa takut mulai menghantui saya. Jujur, walaupun sudah berulang kali naik pesawat, saya selalu takut ketika pesawat mengalami turbulensi, apalagi baru terjadi erupsi dan bandara baru dibuka kembali setelah beberapa hari ditutup. Sungguh pikiran liar sudah menghantui otak saya, seakan-akan sayaa akan menamatkan riwayat hidup saya saat itu. Ahh sungguh imajinasi yang berlebihan.
mengudara, foto oleh Nonny

Selang beberapa waktu setelah guncangan yang membuat jantung seakan berhenti berdetak itu, saya menuju buritan untuk menunaikan panggilan wajib “setor bensin”. Saya kemudian bertanya ke pramugari dimana letak kamar mandi. Saya mengira pramugarinya orang Indonesia sehingga dengan tanpa beban saya menanyakannya dalam bahasa Indonesia. Si mbak kemudian menunjukkan muka bingung, tetapi saya masih belum “ngeh” juga. Setelah beberapa saat saya berpikir kenapa si mbak pramugari tiba-tiba bego, saya akhirnya saya “ngeh” juga. Saya kemudian menanyakan keberadaan tempat favorit saya ini dalam bahasa inggris, dan dengan senyum sapa manjah a la mimi peri, dia menunjukkan kepada saya tempat itu.
Setelah adegan itu, saya masih beberapa kali bolak-balik ke tempat keramat itu. Jam di handphone menunjukkan pukul 4 pm waktu Bali. Hal itu menunjukkan bahwa kami sudah mengudara selama 4 jam, kini tiba waktunya kami mendarat.
Yeahhhhh Thailand. Setelah si penguasa udara menghentikan manuvernya secara sempurna di atas pacuan, dilanjutkan dengan menapaki badan pesawat dan tangga, akhirnya kaki kami melumat tanah seribu pagoda. Ingin rasanya menitikkan air mata tetapi air mata saya sangat jual mahal, jadinya ya cuma senyam-senyum tidak jelas.
Dalam perjalanan menuju imigrasi untuk menyelesaikan segala urusan cap mencap, mata kami terpaku pada tulisan “Suvarnabhumi the pride of Thailand” dan didukung oleh gambar bandara baru untuk full service airlines. Apalah kami yang hanya bisa terbang dengan Low Cost Carrier Airlines ini. Pantasan setelah turun dari pesawat kami tak henti-hentinya mengomentari keadaan bandara ini, yang jauh dari kata modern. Maaf kalau mau dibilang bandara ini mirip gedung tua bekas pabrik. Kesannya tidak terawat. Ternyata bandara ini khusus diperuntukkan bagi budget traveller seperti kami. Yasudahlah yang penting bisa melihat dunia luar biar tidak dibilang katak dalam tempurung.
Menyusuri lorong bandara kami menemukan money exchange. Iseng kami menanyakan ratenya dan ternyata harga rupiah sangat rendah sodara-sodara. Satu baht (mata uang Thailand) dihargai 800an rupiah (lupa harga pastinya), padahal harga tukar  di Indonesia 420 rupiah per satu baht. Jauh sekali kan? Saya sarankan kalau mau ke Thailand atau ke negara manapun, terlebih dahulu belilah mata uang negara tujuan kamu, karena selain harganya yang sangat jatuh, terkadang negara tujuan kamu tidak menyediakan rupiah.
Menuntaskan keisengan, foto oleh Taya

Setelah mekhatamkan keisengan kami, kami segera menuju bagian imigrasi. Antrian mengular di sana sudah menunggu kami. Kami pun berbaris untuk menggenapi garis panjang itu. Sambil menunggu kami berniat mengambil beberapa gambar untuk update instagram juga sebagai kenang-kenangan, ternyata tidak diperbolehkan mengambil gambar di bagian imigrasi. Taya kaget ketika tiba-tiba salah seorang petugas bandara, seorang cewek cantik berwajah oriental menepuk pundaknya sambil berceracau dalam bahasa Thai. Sama seperti adegan saya ke kamar mandi di pesawat, diapun memasang tampang bingung. Selang beberapa detik baru dia “ngeh” ternyata maksudnya tidak boleh mengambil foto. Jadi kalau ke Thailand harus belajar bahasa tubuh juga, karena mereka sangat payah berbahasa inggris.
Kami lalu menertawakan kebodohan kami sambil melanjutkan baris-berbaris yang tak kunjung usai itu. Setelah menyiksa kaki selama kurang lebih 45 menit, kami baru menyadari bahwa ada antrian yang lebih pendek “ASEAN Lane” khusus untuk wisatawan dari negara-negara ASEAN. Kami segera memasang aba-aba untuk berpindah ke barisan yang panjangnya hanya dua meter itu, eh ternyata kami tidak diperbolehkan untuk mengekor di barisan itu. Katanya sudah penuh kuotanya. Entahlah apa motif si petugas itu. Kami terpkasa harus mengantre kembali dalam barisan panjang nan membosankan itu. Setelah 30 menit setelah adegan dilarang masuk barisan ASEAN, kami akhirnya menyelesaikan urusan di bagian imigrasi.
ASEAN Lane yang terlambat menampakkan wajahnya, foto oleh Taya

Yeahh kami bebas. Menapaki anak tangga menuju pintu keluar, kami menemukan konter yang menjual berbagai paket kartu data untuk wisatawan, kamipun membeli satu untuk bertiga demi menekan pengeluaran. Kami sangat beruntung hari itu karena begitu keluar dari pintu bandara, bus kota nomor A1 menuju Mochit sudah nangkring di depan bandara. Kami kemudian menaikinya dan segera melaju menuju stasiun BTS (Bangkok Mass Transit System) Mochit, lalu berganti moda transportasi skytrain, lalu berjalan kaki kurang lebih 300 meter menuju hostel, tempat kami dua menginap selama dua hari ke depan.

Baca juga :
Thailand Trip -- Surga bagi Pecinta Kuliner
Thailand Trip -- Mekong River Hoping Ala Ala
Thailand Trip -- Pengalaman Naik Angkutan Umum di Thailand
Thailand Trip -- Dari Mobil sampai Pesawat : Pengalaman Buruk Dalam Sehari
Thailand Trip -- Glur Hostel : Instagramable Spot in the Center of Bangkok City





You May Also Like

0 comments